CURHATANMAHASIKSA- Pasang surut kajian feminisme tergantung dari mana referensi yang kamu terima atau dengan siapa kamu mengelolah paradigma tersebut. Akan tetapi akan lebih menarik jika kita betul-betul memahami apa sebenarnya yang menjadi poin utama dari lahirnya gerakan tersebut.
Sejauh ini sebagian dari kita memahami bahwa
konstruk sosial yang melahirkan atau membangkitkan kesadaran kita bahwa telah
terjadi pembantaian sosial yang membatasi ruang gerak perempuan secara berkala
dan itu mengakibatkan kerugian yang berjangka panjang.
Di indonesia tentunya kita tidak asing lagi dengan sosok perempuan yang melahirkan pemikiran yang luar biasa sangat besar dampaknya bagi kita semua yaitu R.A Kartini. Yang dapat kita semua rasakan hingga saat ini. Namun, apakah dengan begitu segala problematika yang kita alami sudah terselesaikan? Tentu banyak sekali bagian dari kehidupan kita sebagai perempuan yang masih terbatasi, seperti di ranah budaya, ekonomi, bahkan politik yang masih kita persoalkan. Maka dari itu perlu bagi kita untuk menuntaskan sebagian besar problem yang terjadi saat ini. Saya akan membahas sedikit mengenai bagaimana budaya mengkonstruk perempuan atau menjarah tubuh perempuan dalam karya Novel Haruki Murakami (Nowergian Wood).
Namun tetap menjadi perdebatan jika membahas
persoalan tubuh perempuan dengan laki-laki, pasti akan menjadi topik yang
panjang dari perbedaan sudut pandang bagaimana Haruki menggambarkan sosok
perempuan dalam setiap karyanya.
Saya melihat dan merasakan langsung bagaimana
sosok setiap tokoh perempuan yang ada dalam novel Nowergian Wood dijadikan
sebagai objektivikasi seksual oleh Haruki Murakami.
Saya sepakat bahwa Haruki ingin menunjukkan langsung kepada kita gambaran seksualitas yang berbeda dari Novel tersebut. Bagaiamana sebenarnya seksualitas itu bekerja didalam kondisi mental yang tidak mendukung kita untuk bersosialisasi apalagi untuk melakukan hubungan seksual. Namun apakah itu dapat dibenarkan dalam setiap adegan seksual tanpa adanya consent dari salah satu pihak yang bahkan dalam keadaan jiwa yang masih memerlukan dukungan secara emosional.
Hanya saja saya tidak begitu sepakat dengan
segala penggambaran tokoh perempuan yang dibangun oleh Haruki dalam setiap
karya Novelnya, yang menjadikan setiap perempuan sebagai subjek seksual bagi
setiap laki-laki yang ada dalam tokoh tersebut. Seakan-akan penggiringan
konteks mengenai interaksi antara laki-laki dan perempuan hanya sebatas
hubungan seksual saja tanpa adanya perantara yang lain.
Buku ini memang sangat menakjubkan dan
pastinya membuat para pembaca mendapatkan kenikmatannya sendiri dalam setiap
moment yang ditunjukkan oleh Nowergian Wood. Namun kekeliruaanya adalah
bagaiaman ia membangun interaksi tersebut membuat saya begitu jengkel terkait
bagaimana tokoh setiap perempuan dalam karya tersebut.
Saya sangat merasakan kekeliruan tersebut
dengan bagaimana salah satu tokoh utama dalam Novel ini dibantai dalam keadaan
emosional yang tidak begitu mendukung, namun harus dihadapkan dengan alur
cerita yang membangun interaksi sosial yang bagi penulis inilah interaksi
perempuan dan laki-laki yang seharusnya.
Saya hanya fokus mengkritik interaksi
laki-laki dan perempuan, walaupun banyak hal yang perlu kita bahas dengan
bagaiaman sisi gelap kehidupan yang dijalani setiap tokoh. Menjadikan ini hal
yang sangat penting bagi kita yang sangat amat kurang memahami interaksi
tersebut. Dengan ini saya sangat berharap bagaimana kita bisa lebih menghargai
hal tersebut.
Alangkah kelirunya jika kita hanya memahami
peradaban sejarah laki-laki dan perempuan hanya sebatas interaksi yang timpang
yang terjadi diperadaban saat ini. Dengan begitu kita harus membuka lebar mata
kita dalam setiap kehadiran perempuan baik dalam karya sastra, ekonomi dan
politik. Dengan mengesampingkan egoentrik masing-masing individu yang ingin
terlihat lebih dominan. Setiap manusia memiliki porsinya masing-masing dalam
diri yang hanya diraih atau mampu diasah dengan memberikan kesempatan dalam
artian memberi ruang untuk menunjukkan hal tersebut tanpa adanya batasan hanya
karena dia perempuan.
Jadi, saya hanya ingin menyampaikan
keterbelakangan kita dalam hal memahami perjuangan yan dilakukan oleh
teman-teman Feminisme mengenai betapa pentingnya kehadiran Perempuan dalam
setiap keterlibatannya di dunia social yang setiap hari kita tidak pernah
terlepas oleh hal tersebut.
Saya mendiskusikan novel ini dengan beberpa
teman saya yang telah membacanya, kita paham bagaimana laki-laki dan Perempuan
memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal-hal yang urgent untuk membahas
persoalan yang mengglobal yang tidak pernah ada habisnya kita bahas ketika
masih terjadi ketimpangan hubugan. Dan ya, memang tidak begitu mengejutkan
mengenai kesimpulan yang dikatakan oleh rekan saya, bahwasanya ya begitu memang
adanya antara laki-laki dan perempuan dalam membangun peradaban. Dan bukan
persoalan yang amat sangat mengejutkan jika perempuan dijadikan sebagai objek
seksual.
Namun hal ini menjadikan saya begitu
bersemangat untuk membahas Novel tersebut karena penggambaran Haruki mengenai
setiap tokoh yang ada dalam karyanya. Apalagi kesimpulan yang telah diberikan
oleh rekan saya mengenai Novel tersebut. Seoalah-olah peradaban akan terhenti
jika seksualitas tidak terjadi antara interaksi laki-laki dan perempuan
terhenti.
Saya tidak mengatakan bahwasanya seksualitas
tidak baik untuk kesehatan, namun saya hanya tidak menyukai jika pemaknaan
interaksi harus melibatkan seksualitas. Jika teman-teman telah selesai membaca
Novel tersebut, saya berkenan untuk berdialektika dengan pemahaman atau
kesimpulan yang teman-teman dapatkan dalam karya Haruki Murakami- Norwegian
Wood. Selamat membaca.
A. Pelayati
Juni 15, 2024
A. Pelayati
Februari 05, 2024
GOWA, CURHMAH - Beredar unggahan berupa Instagram Story melalui akun @aku_uinam yang membahas adanya penandatangan berkas dari salah satu pendaftar bakal calon ketua Himpunan Program Studi (HMPS) IQT UINAM yang dilakukan oleh pihak Lembaga Penyelenggara Pemilihan (LPP) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makassar (UINAM) periode 2024, pada Minggu (7/10/23).
Tampak pada rekaman itu, yang sampulnya bertuliskan: “ADA APA DENGAN LPP FUF UINAM? (TERDUGA MELOLOSKAN SALAH SATU BERKAS KANDIDAT HMPS IQT UINAM!)” terdengar suara oknum LPP-FUF UINAM membicarakan tentang penandatangan berkas salah satu kandidat dari HMPS IQT-FUF.
“Berkasnya Mijung sebenarnya juga tidak lengkap, ketua LPP yang tidak konfirmasi ke saya berdua. Dia tandatangani berkasnya mijung. Karena pepetmi jadi dia parafki cepat anunya Mijung,“ kata salah satu oknum LPP pada rekeman tersebut.
Menanggapi rekaman itu, Mid Formatur HMPS IQT-FUF UINAM, Ikhsan Mubarak menyampaikan ternyata pihak LPP-FUF UINAM bagaikan Tim Sukses yang telah menyalahgunakan jabatannya dengan menghalalkan segala cara guna meloloskan berkas yang mestinya cacat secara prosedural yang telah ditetapkan.
“Itu bagian dari kecurangan yang nyata. Pihak LPP-FUF tak ada bedanya seperti Tim Sukses yang mendukung satu pihak kandidat dan parahnya mereka menghalalkan segala cara untuk meloloskan berkas pihak tertentu. Tentu hal ini sangat disayangkan, karena merusak iklim demokrasi kemahasiswaan di kampus UINAM, terutama fakultas FUF tersendiri,“ tuturnya.
Lebih lanjut, dirinya juga menyebutkan semasa pada tahapan pengunguman kelulusan verivikasi berkas. Berkasnya hampir tak diluluskan hanya karena persoalan stempel, namun ternyata lawannya yang sekarang terpilih menjadi Formatur HMPS IQT UINAM 2023 berkasnya jauh lebih parah kecacatannya.
“Waktu tahapan pengunguman, hanya berkas saya yang dipermasalahkan sebagai pendaftar dari bakal calon HMPS IQT hanya perihal satu pernyataan yang tidak ter-stempel. Itupun, karena di peraturan yang disebarluaskan oleh pihak LPP sendiri tidak ada kejelasan mengenai hal demikian.”
“Namun tenyata, berkas dari lawan saya sangat parah cacatnya, yakni saudara Miftahul Jannah. Dan anehnya, berkasnya tak di permasalahkan sedikitpun oleh pihak LPP waktu itu. Maka demikian, dengan bukti rekaman ini menegaskan pihak LPP secara nyata dan bukan sekedar asumsi dengan jelas melakukan tindak kecurangan,“ ungkapnya sosok yang akrab dengan sapaan Ikhsan.
Dengan kejadian tersebut, dirinya menyampaikan harapannya serta menegaskan akan menindaklanjuti secara tuntas atas kecurangan yang telah dilakukan oleh pihak LPP-FUF UINAM.
“Dengan segala kecurangan yang telah terjadi, pihak kami akan mengusut kasus ini sampai tuntas. Tentunya, saya juga berharap, agar jurusan yang berada di naungan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat dapat berkolaborasi membantu kami untuk menuntuskan kasus kecurangan demikian,“ tegasnya.
Editor : Apey
A. Pelayati
Januari 08, 2024
![]() |
| Bakal Calon Ketua Umum HMPS AFI 2024-2025 |
CURHATAN MAHASIKSA - Renaiisance, mahasiswa Aqidah & Filsafat Islam (AFI) angkatan 2021, resmi menentukan bakal calon ketua HMPS Aqidah & Filsafat Islam Uinam untuk periode 2024-2025 pada Jumat, 8 Desember 2023. Proses penetapan calon tersebut berlangsung di pelataran Royal Mart Samata.
Rapat angkatan yang membahas pemilihan ini secara resmi menetapkan lima kandidat yang akan bersaing memperebutkan posisi ketua HMPS AFI, yakni Dadi, Rahmat Hidayat Ilham, Andi Muhammad Ilham Noer, Muh Albadri, dan Nasrullah.
Dalam suasana yang penuh semangat akademik, para anggota Renaiisance mengambil keputusan secara bulat dan tegas dalam rapat tersebut. T dalam pertemuan tersebut menegaskan bahwa keputusan ini tidak boleh diintervensi oleh pihak manapun dengan cara apapun. Ucapannya yang tegas menciptakan atmosfer yang menekankan pentingnya keputusan ini sebagai hasil kesepakatan kolektif, serta mengajak anggota untuk tidak ragu dalam menyuarakan penolakan sebelum terjebak dalam penindasan gaya baru.
Rapat tersebut menjadi wadah yang sarat dengan semangat akademik tinggi, di mana keputusan dibuat dengan pertimbangan matang. Dengan demikian, mahasiswa AFI angkatan 2021 secara bersama-sama mengukuhkan komitmen mereka terhadap demokrasi dan integritas dalam proses pemilihan kepemimpinan kampus.
Editor : Obet
A. Pelayati
Desember 08, 2023
![]() |
| Foto Penulis |
CURHATAN MAHASIKSA - Pancasila, sebagai pilar ideologi Indonesia, mencerminkan visi kebangsaan yang didasarkan pada lima sila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Meski Pancasila telah menjadi panduan bagi masyarakat Indonesia, terdapat keraguan dan tantangan dalam implementasinya.
Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai sila pertama, seringkali hanya tercermin dalam retorika. Meskipun banyak yang mengaku bertuhan, partisipasi dalam kegiatan keagamaan menunjukkan kesenjangan yang patut diperhatikan. Masjid yang sepi di hari Jumat dan gereja yang sunyi di hari Minggu menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana nilai keagamaan diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, sebagai sila kedua, seolah-olah menjadi klise tanpa implementasi konkret. Tampaknya masih banyak masyarakat yang belum mampu memanusiakan sesama, menggugah pertanyaan serius terkait kesetaraan dan perlakuan adil di berbagai lapisan masyarakat. Isu-isu seperti kemiskinan, ketidaksetaraan gender, dan diskriminasi perlu menjadi fokus perhatian untuk menjembatani kesenjangan ini.
Persatuan Indonesia, sebagai sila ketiga, diuji oleh konflik suku dan agama di beberapa daerah. Coretan rasis di dinding di Makassar menggarisbawahi perlunya upaya lebih besar untuk memperkuat persatuan dan meredakan potensi konflik. Peran pemerintah dan masyarakat dalam mendukung keragaman dan toleransi menjadi kunci penting dalam menjaga keutuhan bangsa.
![]() |
| Gambar : Coretan Rasis di Tembok Kota Makassar |
Permusyawaratan Perwakilan, sebagai sila keempat, menjadi tanda tanya terkait kinerja sistem demokrasi. Tuntutan untuk mendengarkan aspirasi rakyat seringkali dihadapkan pada kenyataan politik yang kompleks. Perlu adanya reformasi dan peningkatan partisipasi masyarakat agar perwakilan rakyat benar-benar mencerminkan kebutuhan dan harapan masyarakat.
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sebagai sila kelima, belum sepenuhnya terwujud. Ketidakmerataan dalam akses pendidikan, kesehatan, dan kesempatan ekonomi menjadi indikator bahwa perjuangan untuk mencapai keadilan sosial masih panjang. Perlu adanya kebijakan yang mendukung distribusi sumber daya secara merata untuk mengatasi ketidaksetaraan.
Kesimpulannya, implementasi Pancasila sebagai ideologi dasar Indonesia belum sepenuhnya mencapai potensinya. Tantangan dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari memerlukan refleksi mendalam dan tindakan nyata. Penguatan nilai-nilai keagamaan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial harus menjadi komitmen bersama. Hanya dengan upaya bersama, Indonesia dapat menjalani perjalanan menuju cita-cita luhur yang diamanatkan oleh Pancasila.
Penulis : Akbar Pelayati
A. Pelayati
November 13, 2023
![]() |
| Gambar : Postmodernism |
*Oleh : Yusuf Kasim Bakri, Mahasiswa UIN Alauddin Makassar.
CURHATAN MAHASIKSA - Pada awal tahun 1960-an, terdapat struktur masyarakat baru yang disebut sebagai “masyarakat post-industrial” (Daniel Bell), atau “masyarakat konsumen”, “masyarakat media”, “masyarakat informasi”, “masyarakat elektronik”, dan lainnya. Fenomena lahirnya realitas baru ini kemudian berkembang dan dikenal sebagai era postmodernisme.
Banyak orang yang beranggapan bahwa postmodernisme adalah penyempurna dari modernisme yang dianggap tidak berhasil mengangkat martabat manusia modern. Namun, sebagian yang lain berpendapat bahwa postmodernisme adalah paradoks kontras yang berseberangan dengan modernisme. Pendapat ini juga disampaikan oleh seorang kritikus budaya paling penting yang bernama Fredric Jameson.
Fredric Jameson dalam bukunya “Postmodernism or, The Cultural Logic of Late Capitalism” (1991) menjelaskan wacana postmodernisme dalam kebudayaan, dengan memaparkan beberapa elemen-elemen postmodernisme sebagai berikut:
1. Munculnya Distorsi Realitas di Media Sosial
![]() |
| Gambar : Distorsi Realitas di Media Sosial |
Menurut Jameson, salah satu gejala postmodernisme adalah ditandai oleh kepura-puraan atau biasa disebut sebagai ”the waning of affect”. Gejala tersebut memberikan banyak sekali perubahan mendasar, baik perubahan dalam dunia objek (munculnya simulakrum), maupun perubahan dalam dunia subjek. Perubahan dalam dunia subjek yang dimaksud di sini adalah hilangnya eksistensi subjek individu yang memiliki ekspresi atau style yang unik dan personal serta keotentikan perasaan individual. Subjek individu di postmodernisme ini cenderung telah terfragmentasi, terbelah-belah hingga ke ranah emosi pribadi (Jameson, 1991: 10-11).
Contoh yang menarik dalam konteks sekarang ini adalah kasus komodifikasi sosok selebgram melalui pembentukan branding diri di media sosial Instagram. Menurut Jameson konstruksi semacam itu sebenarnya adalah tontonan belaka (spectacle) dan belum tentu merepresentasikan kepribadian asli selebgram tersebut. Akibatnya, fenomena ini menyebabkan munculnya euforia yang aneh ketika tubuh berhubungan dengan media elektronik, seperti adanya kepura-puraan atau pencitraan dalam diri tiap individu ketika di media sosial. Distorsi realitas seperti itu tentu berpengaruh terhadap kesehatan mental, seperti terjadinya penolakan atas karakter yang sebenarnya dimiliki akibat terlalu sering menampilkan kepura-puraan di hadapan publik.
2. Hilangnya Kesejarahan
![]() |
| Gambar : Kesejarahan |
Hingar bingar kemewahan postmodernisme ini juga mengancam hilangnya rasa sejarah yang semula eksis di masyarakat. Dalam sudut pandang Jameson, hal itu menyebabkan “kanibalisasi atau peniruan acak terhadap gaya masa lalu”. Pemahaman ini membawa kita pada konsep kunci dalam postmodernisme, yakni pastiche (Jameson, 1991: 67-97). Pastiche adalah praktek peniruan atau imitasi mentah-mentahan atas sesuatu yang asli tanpa maksud-maksud tersembunyi apapun, tanpa motif kritik maupun parodi (Sean Homer: 104). Munculnya fenomena pastiche ini merupakan gejala runtuhnya historisitas, suatu keterputusan dengan sejarah, dan sekaligus gejala ketidakmampuan kita merepresentasikan pengalaman kekinian kita sendiri (Jameson, 1991: 21).
Fenomena pastiche ini acap kali divisualisasikan dalam film-film kekinian yang cenderung menekankan citra buatan (image) dengan isi cerita yang dibuat seolah nyata. Padahal jenis konsumsi budaya semacam ini sama sekali tidak menunjuk pada realitas konteks yang sesungguhnya, melainkan hanya mengeksploitasi pencitraan dan stylization yang hampa makna, yang ditujukan untuk komodifikasi dan konsumsi semata. Akibatnya, masyarakat hanya dicekoki cerita-cerita imitasi hasil kreasi sehingga lupa pada sejarah-sejarah yang seharusnya eksis dalam dimensi sosial bermasyarakat.
3. Munculnya Temporalitas Paradoks
![]() |
| Gambar : Temporalitas Paradoks |
Jameson memakai istilah schizophrenia untuk menandai temporalitas posmodernisme. Konsep ini berarti bahwa masyarakat yang hidup di era postmodernisme ini cenderung mencari sesuatu yang baru dan berusaha mengkonsumsi hal yang terbaru terus menerus guna memenuhi selera dan keinginan mereka. Manusia postmodern terjebak dalam “kekinian”, dan dalam kondisi itu membuatnya ingin selalu memenuhi hasrat kebaruan dan up to date secara lebih intens.
Artian, dari paparan tersebut dapat diperlihatkan dengan jelas bagaimana ruang budaya global postmodernisme telah menyediakan jebakan dan mengkooptasi subjek individual. Oleh karenanya dalam konteks ini, Jameson menawarkan dua bentuk strategi resistensi budaya untuk melawan logika postmodernisme.
Pertama, strategi homeopathic, seperti misalnya membuat gangguan budaya, membuat praktek-praktek bermakna perlawanan, dan juga menolak nilai-nilai yang dikomodifikasikan. Kedua, strategi cognitive mapping, seperti mendorong individu dan masyarakat untuk menciptakan budaya politik baru dengan menyadari the truth of postmodernism. Jameson mengajak kita untuk mulai memahami positioning diri, memegang prinsip hidup dan tetap menjaga jati diri, agar tidak mudah terbawa oleh derasnya arus postmodernisme.
Penulis : Yusuf Kasim Bakri
Editor : Akbar Pelayati
A. Pelayati
November 12, 2023
![]() |
| Musyawarah Besar KMP UIN Alauddin Makassar |
MAKASSAR, CURHATANMAHASIKSA - Kesatuan Mahasiswa Pinrang (KMP) UIN Alauddin Makassar menggelar kegiatan Musyawarah Besar (Mubes) di Aula Pasar Sungguminasa pada tanggal 16 September 2023. Kegiatan dimulai pada pukul 23:00 dan dihadiri oleh sekitar 100 kader KMP.
Dalam kegiatan tersebut, Muh Fadil terpilih sebagai Formatur Ketua Umum Kesatuan Mahasiswa Pinrang UIN Alauddin Makassar periode 2023-2024.
Muh Fadil mengatakan, "Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh warga KMP. Dengan terpilihnya saya sebagai Formatur, saya berjanji akan menjalankan tanggung jawab untuk membangun KMP menjadi lebih baik." Kata Fadil
Kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan berakhir pada pukul 05:36 WITA.
Reporter : Akbar Pelayati
A. Pelayati
September 16, 2023
![]() |
| Formatur HMI Komfak Ushuluddin dan Filsafat Cabang Makassar |
MAKASSAR, CURHATAN MAHASIKSA - Pada hari Sabtu, tanggal 9 September 2023, HMI MPO (Himpunan Mahasiswa Islam) Komfak Ushuluddin dan Filsafat Cabang Makassar menggelar Rapat Anggota Komisariat (Rak) secara daring.
Kegiatan yang dimulai tepat pukul 20.22 WITA tersebut melibatkan sejumlah pengurus dan anggota komisariat. Pada kegiatan tersebut, Sirajuddin Thalib terpilih sebagai Formatur Ketua Umum HMI MPO Komfak Ushuluddin dan Filsafat yang ke-tiga.
Dalam sambutannya, Sirajuddin Thalib berkomitmen untuk memberikan yang terbaik bagi Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Cabang Makassar.
"Dengan terpilihnya saya sebagai Formatur, saya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Komfak Ushuluddin dan Filsafat, dan saya berharap agar seluruh kader selalu mendukung dalam menghidupkan semangat Komfak Ushuluddin dan Filsafat," ujarnya.
Kegiatan Rak daring tersebut berlangsung dengan lancar dan penuh semangat, mencerminkan tekad kuat anggota HMI Komfak Ushuluddin dan Filsafat Cabang Makassar. Acara tersebut sukses berakhir pada pukul 22.01 pada hari Minggu, tanggal 10 September 2023. Semoga kegiatan ini akan membawa dampak positif bagi perkembangan organisasi ini di masa depan.
Reporter : Akbar Pelayati
A. Pelayati
September 10, 2023
![]() |
| Pria kabur dari rumah karena takut di sunat. |
CURHATANMAHASIKSA- Ibu Aminah (75) tidak menyangka kalau anaknya yang kabur selama 25 tahun bisa kembali ke rumah dengan keadaan baik-baik saja.
Selama hilang, ternyata keseharian anaknya (Agus) hanya meminta-minta dan tinggal di salahsatu area pasar di Bantul Yogyakarta.
Alasan kabur Agus menurut kakaknya ia takut di sunat pada saat duduk di bangku kelas 2 SD.
Apakah sekarang Agus sudah berani di sunat ?
Editor : Akbar
A. Pelayati
Januari 29, 2023
![]() |
| Sempro Mahasiswa di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar |
A. Pelayati
Januari 26, 2023
![]() |
| Foto Penulis |
*Oleh Akbar Pelayati, Mahasiswa AFI UIN Alauddin Makassar.
CURHATANMAHASIKSA - Jurusan Aqidah Filsafat Islam (AFI) membuka pintu luas pada tiga ranah utama: Pemikiran Islam, Tassawuf, dan Filsafat Islam. Ketiga bidang ini menjadi landasan kokoh dalam mengembangkan studi Islam, menjadi alat analisis mendalam terhadap isu-isu keagamaan kontemporer, baik di skala lokal maupun global.
Penulis : Akbar Pelayati
Editor : Redaksi
A. Pelayati
Januari 25, 2023
| Mahasiswa Unhas Tewas Saat DIksar |
CURHATANMAHASIKSA - Penyebab meninggalnya Virendy M (19) saat mengikuti diksar Mapala Unhas di Maros belum terungkap. Polisi belum menyimpukan penyebab kematian Virendy.
"Masih dalam proses penyelidikan" ucap Kasat Reskrim Polres Maris, Slamet saat di konfirmasi Senin, 23/1/2023.
Para panitia pelaksana sudah dipanggil. Panitia dan peserta kurang lebih 10 orang. Masih proses penyelidikan. Keterangan tidak bisa kami berikan tambahannya.
Sejauh ini, penyedik Satreskrim Polres Maros, telah memeriksa sejumlah saksi dalam kasus ini, yakni panitia diksar Mapala Unhas.
Editor : Akbar
| Potret Mahasiswa Wisuda Menggunakan Kostum Spaiderman |
CURHATANMAHASIKSA - Wisuda merupakan salah-satu acara yang formal. Biasanya, mahasiswa diwajibkan untuk berpakaian sopan dan rapih, umumnya memakai jubah kelulusan.
Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan salah-satu universitas yang ada di jepang.
Pasalnya, Universitas Kyoto mengizinkan mahasiswa berpakaian unik di momen wisudah,
Para mahasiswa yang wisuda terlihat memakai kostum unik, mulai pengantin hingga alien.
24/1/2023, Univesitas Kyoto resmi mengeluarkan trobosan terbaru, apakah hal tersebut nantinya akan ditiru oleh mahasiswa (i) indonesia.
Editor : Akbar Pelayati
| Penemuan Mayat Pemiliki Kos di Makassar. |
MAKASSAR, CURHATANMAHASIKSA - Penemuan mayat seorang diduga pemilik kos bernama Andi Anto di Makassar, Sulawesi Selatan ditemukan tewas membusuk di dalam kamar miliknya. Hal tersebut terungkap setelah penghuni kos ingin membayar sewa kepada korban.
Mayat pria itu ditemukan di kamar kosnya di Jalan Malengkeri Raya, Kecamatan Tamalate, Minggu (22/1) sekitar pukul 01.30 Wita. Korban pertama kali ditemukan oleh dua orang penghuni kosnya.
"Saat itu (saksi) ingin bayar iuran (sewa) kosnya," kata Kasubag Humas Polrestabes Makassar, Kompol Lando saat dikonfirmasi , Selasa (24/1/2023).
Editor : Akbar Pelayati















.jpg)




